Teks foto : Kepala UPT Puskesmas Balai Makam Tekankan Pencegahan Stunting Dimulai Sejak Kehamilan, Desa Air Kulim Targetkan Nol Kasus Baru
DESA AIR KULIM – Upaya percepatan penurunan stunting di Desa Air Kulim terus diperkuat melalui edukasi kepada masyarakat. Dalam kegiatan Rembuk Stunting.Senin 3 Agustus 2026 Kepala UPT Puskesmas Balai Makam di sampaikan oleh,Nura Seini Kuba,sekaligus sebagai nara sumber dalam kegiatan tersebut menegaskan, bahwa pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
"Dalam paparannya, narasumber mengapresiasi kerja keras kader posyandu dan kader gizi yang selama ini tidak mengenal lelah mendampingi masyarakat, mulai dari penimbangan balita hingga pemberian makanan tambahan kepada ibu hamil dan balita yang mengalami masalah gizi.
Dijelaskan bahwa stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis. Penyebab utamanya ada dua, yakni kurangnya asupan nutrisi dan penyakit infeksi yang terjadi berulang.
Kurangnya asupan nutrisi dapat dimulai sejak bayi masih berada dalam kandungan, terutama apabila ibu mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK) atau anemia selama kehamilan. Kondisi tersebut meningkatkan risiko bayi lahir dengan masalah gizi yang berpotensi menyebabkan stunting.
Selain itu, tidak diberikannya ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang tidak tepat, serta pola makan balita yang kurang bergizi juga menjadi faktor penting penyebab stunting.
Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah melalui Kementerian Kesehatan saat ini menjalankan program pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil KEK dan balita kurang gizi. Di Desa Air Kulim, kader kesehatan setiap hari memasak dan mengantarkan makanan tambahan kepada sasaran selama tiga hingga empat bulan sebagai bentuk keseriusan dalam mencegah stunting.
Meski angka stunting dalam tiga tahun terakhir mengalami penurunan, pihak Puskesmas mengingatkan bahwa potensi munculnya kasus baru tetap ada. Pada penimbangan massal Februari lalu masih ditemukan delapan anak stunting.
Karena itu, melalui penimbangan massal dan pemberian vitamin A pada Agustus ini, diharapkan tidak ditemukan lagi kasus stunting baru di Desa Air Kulim.
Selain faktor gizi, penyakit infeksi seperti tuberkulosis (TB) dan penyakit bawaan juga dapat menghambat pertumbuhan anak meskipun kebutuhan gizinya telah terpenuhi. Oleh sebab itu, setiap anak yang terindikasi stunting akan menjalani pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh untuk mengetahui penyebabnya.
Dalam kesempatan tersebut, bahwa stunting bukan hanya berdampak pada tinggi badan anak, tetapi juga mengganggu perkembangan otak sehingga memengaruhi kemampuan belajar dan kecerdasan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia serta daya saing bangsa.
Melalui kolaborasi pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader posyandu, dan masyarakat, diharapkan kesadaran terhadap pentingnya pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga usia dua tahun semakin meningkat, sehingga target mewujudkan Desa Air Kulim bebas stunting dapat tercapai."pungkasnya.
Laporan Sut












